Rabu, 14 Juni 2017

Scheduled Suicide day : Hidupmu Lebih Berharga Dari Yang Kamu Duga


Judul : Scheduled Suicide Days
Penulis : Akiyoshi Rikako
Penerbit : Penebirt haru
Tebal : 277 halaman
Rate : 5 / 5 bintang

Blurb

Ruri yakin ibu tirinya telah membunuh ayahnya.
Tak sanggup hidup bersama ibu tirinya, Ruri bertekad bunuh diri untuk menyusul ayahnya.

Ruri akhirnya pergi ke desa yang terkenal sebagai tempat bunuh diri, tapi dia malah bertemu dengan hantu seorang pemuda yang menghentikan niatnya. Hantu itu berjanji akan membantu Ruri menemukan bukti yang disembunyikan oleh ibu tirinya, dengan janji dia akan membiarkan Ruri mencabut nyawanya seminggu kemudian jika bukti tersebut tidak ditemukan.

Itulah jadwal bunuh diri Ruri: satu minggu, terhitung dari hari itu.

Review
    Saya tidak tahu harus menilai buku ini seperti apa. Sejujurnya, dibanding buku pertama Akiyoshi yang berjudul Girls In The Dark, misteri di buku ini cenderung lebih ringan / datar. Saya sama sekali tidak merasakan rasa penasaran yang menggebu seperti di buku pertama, bahkan cenderung lempeng-lempeng saja setelah tahu kejadian sebenarnya yang terjadi pada Ruri. Namun, saya mengapresiasi karya ini memang bukan karena misterinya, tetapi apa yang diangkat dalam cerita ini.

    Saya akui, sudah jadi ciri khas Mbak Aki untuk memberikan potongan-potongan jawaban ke pembaca mereka secara tidak menyeluruh. Seperti puzzle, pembaca diminta merangkai sendiri kejadiannya, kemudian ‘BUUM!’, di akhir cerita Mbak Aki memamerkan puzzle aslinya pada pembaca, sehingga pembaca bisa ngebandingan puzzle imajinatifnya dengan punyanya mbak Aki. Semakin jauh kemiripan puzzle tersebut, semakin pembaca misuh-misuh ngerasa kena trap dari mbak Aki.

    Saya pernah kena ini di Holy Mother.

Senin, 12 Desember 2016

Dwilogi The Wrath & The Dawn : Makanan Berempah Yang Enak Dinikmati


Judul : The Wrath & The Dawn (#1)
The Rose & The Dagger (#2)
Penulis : Renee Ahdieh
Penerbit : POP (Imprint KGP)
Genre : Fantasi

Sinopsis #1

Terinspirasi dari Kisah 1001 Malam

Khalid Ibnu al-Rashid, Khalif Khorasan yang berusia delapan belas tahun, adalah seorang monster. Dia menikahi perempuan muda setiap malam dan menjerat pengantin barunya dengan tali sutra saat fajar tiba. Ketika sahabatnya menjadi korban kezaliman Khalid, Shahrzad al-Khayzuran bersumpah akan menuntut balas. Gadis enam belas tahun itu mengajukan diri menjadi pengantin Sang Khalif. Shahrzad tak hanya bertekad untuk bertahan hidup, tetapi juga bersumpah akan mengakhiri rezim kejam sang raja bocah.

Malam demi malam, Shahrzad memperdaya Khalid, menceritakan kisah-kisah memikat yang membuatnya terus bertahan, meski tiap fajar bisa jadi merupakan saat terakhirnya melihat matahari terbit. Tetapi sesuatu yang tak terduga mulai terkuak: ternyata Khalid bukanlah sosok yang Shahrzad bayangkan. Sikapnya sama sekali tidak mencerminkan seorang pembunuh berdarah dingin. Mata emasnya memancarkan kehangatan. Monster yang ingin dilawan Shahrzad itu tak lebih daripada pemuda dengan jiwa yang tersiksa. Dan Shahrzad mulai jatuh hati kepadanya….

Sinopsis #2

Sekuel The Wrath & The Dawn

Khalid Ibnu al-Rashid, Khalif Khorasan yang berusia delapan belas tahun, adalah seorang monster. Itulah yang awalnya dikira Shahrzad. Ketika berusaha mengungkap rahasia suaminya itu, Shahrzad justru menemukan sosok luar biasa yang dia cintai sepenuh hati. Namun sebuah kutukan yang terus mengancam membuat Shazi dan Khalid harus berpisah.

Kini Khalifa Khorasan berkumpul kembali dengan ayah dan adiknya. Mereka berlindung di perkemahan padang pasir, tempat berkumpulnya pasukan untuk menggulingkan Khalid—pasukan yang dipimpin oleh Tariq, cinta pertama Shahrzad. Terjebak di antara kesetiaan kepada dua kubu yang sama-sama dia sayangi, Shazi diam-diam menyusun rencana untuk menghentikan perang dengan melibatkan sihir yang mengalir dalam darahnya. Dan Shahrzad akan mempertaruhkan apa pun untuk menemukan jalan kembali kepada cinta sejatinya….

Review

Jika diibaratkan dengan minuman, The Wrath & The Dawn seperti teh jeruk purut. Baunya harum, rasanya enak, manis, dan menyegarkan, tetapi tidak meninggalkan kesan apa-apa bagi saya, kecuali rasanya yang enak. Nah, The Rose & The Dagger jauh seperti wedang uwuh, penuh dengan rasa. Mulai dari manis, pedas, hangat, getir, dan harumnya begitu berwarna, juga memberi kehangatan di badan dan mencegah flu berkembang lebih jauh.

Minggu, 18 September 2016

The Last Ever After : Sejatinya Jahat dan Sejatinya Baik




Judul : The Last Ever After (The School For Good And Evil #3)
Pengarang : Soman Shainani
Penerbit : Buana Sastra
Genre : High Fantasy
Tebal : 700++ halaman


Blurb

Sophie bimbang. Apakah benar, cinta sejatinya adalah Sang Guru? Jika ia menerima pinangan Sang Guru, Kejahatan akan merajalela. Bukankah ia sudah berusaha keras menjadi Baik?

Agatha merasa hubungannya dengan Tedros malah semakin menjauh. Pertengkaran pun mewarnai hari-hari mereka. Hingga meeka menyadari satu persamaan yang menyatukan mereka, Sophie, Mereka bertekad untuk menyelamatkan Sophie.

Misteri demi misteri terungkap dan kebenaran mulai tersibak. Takdir yang menautkan Sophie dan Agatha memang dituliskan dari jauh sebelumnya. Manakah yang akan dipilih Sophie? Tetap bersama Sang Guru dan membiarkan Kejahatan menang? Ataukah memilih membantu Agatha, sahabat terbaiknya, dan Kebaikan untuk menang?

Review
Jangan menilai semua cerita sebelum membaca akhir ceritanya, itu yang saya dapat setelah membaca buku terakhir dari seri The School For Good And Evil-nya Soman Chaini (Yang namanya bikin saya inget nama merk dagang obat herbal yang pernah dibeli sama Ibu saya).

Asli, saya benar-benar terpukau dengan akhir cerita yang begini... --- gimana ya menjelaskannnya. Kalau menyebut cerita ini happy end, ini lebih dari pada Happy End. Sad End? Dih..., sama sekali bukan Sad End. Mungkin kalian bisa menyebutnya yang pertama, tetapi... akhir cerita ini lebih dari pada itu. Ini adalah Awal dari yang Akhir. Sungguh, novel ini layak dibaca bagi siapa pun yang mau baca. Walau tampilannya mengemas mengenai cerita remaja yang berpusat pada cowok-cowok, tapi isinya tidak sedemikian ringan.

Rabu, 20 Juli 2016

Sudut Mati : Taktik Di Dunia Korporasi




Judul : Sudut Mati
Pengarang : Tsugaeda
Penerbit : Bentang Pustaka
Genre : Thriller

Sinopsis

Titan kembali dari Amerika Serikat setelah delapan tahun, tepat ketika Grup Prayogo milik ayahnya sedang krisis dan membutuhkan bantuannya. Selain kesulitan dalam urusan bisnis, ada ancaman dari kompetitor jahat, Ares Inco, yang memiliki keinginan menghancurkan keluarga Prayogo untuk selamanya.

Namun Titan tak hanya menghadapi itu. Kakaknya, Titok, tak suka tersaingi olehnya di dalam Grup. Adiknya, Tiara, justru menikah dengan putra mahkota musuh. Dan mungkin ia juga telah membawa kekasih yang dicintainya ke dalam bahaya.

Titan harus menghadapi itu semua. Sementara tanpa ia ketahui, seorang pembunuh dengan kode 'Si Dokter' mengintai dan menunggu saat tepat untuk ikut campur ke dalam urusan mereka.


Review

    Sudah lama sekali saya membaca buku ini. Bulan kapan saya baca, bulan kapan juga saya reviewnya. Draft reviewnya bahkan numpuk lama di blog :)). Aduuh, saya malah jadi kepikiran. Jujur aja, sebenarnya saya juga agak-agak lupa jalan ceritanya, meski inget sebagian besar ceritanya.*dikaplok*

   #lah

 Sialan.

   Saya cuma bisa  misuh-misuh setelah menamatkan novel ini. Ya..., bukan misuh yang kasar sih. Paling cuma menggerutu dalam hati aja gara-gara nggak nyangka kalau ceritanya bakal berkembang menjadi seperti ini.

   Jujur saja, waktu membaca sinopsis + lihat sampul buku, saya sudah terbayang-bayang aroma thriller dan romansa. Maksudnya ya... romansa khas-khas thriller gitu. Sayang, saya cuma bisa gigit jari karena ternyata nggak menemukan romansa yang saya maksud di dalam cerita ini. Saya ketipu. Tapi ketipu dengan cara yang manis dan memuaskan.

   Ngoahahaha....

   Ini cerita kurang tebel n kurang banyak menurutku. :'(

Senin, 18 April 2016

Perfect Pain : Apakah Kekerasan Bisa Disebut Cinta?


Judul : Perfect Pain
Pengarang : Anggun Prameswari
Penerbit : Gagas Media
Genre : Romance

Sinopsis

Sayang, menurutmu apa itu cinta? Mungkin beragam jawab akan kau dapati. Bisa jadi itu tentang laki-laki yang melindungi. Atau malah tentang bekas luka dalam hati-hati yang berani mencintai. 

Maukah kau menyimak, Sayang? Kuceritakan kepadamu perihal luka-luka yang mudah tersembuhkan. Namun, kau akan jumpai pula luka yang selamanya terpatri. Menjadi pengingat bahwa dalam mencintai, juga ada melukai. 

Jika bahagia yang kau cari, kau perlu tahu. Sudahkah kau mencintai dirimu sendiri, sebelum melabuhkan hati? Memaafkan tak pernah mudah, Sayang. Karena sejatinya cinta tidak menyakiti.

Review

   Apakah mencintai membuatmu diijinkan untuk melukai pasanganmu?

   Apakah dengan mengatasnamakan cinta, kau dibolehkan untuk menyakiti pasanganmu hingga tak berdaya?

   Jika memang cinta seperti itu, saya rasa.... nggak akan ada orang yang mau merasakan cinta. Cinta yang diagungkan memberikan kepahitan, cinta yang diharapkan jadi cahaya justru menjadi kegelapan. Orang-orang tentu akan kabur kalau cinta seperti itu dan nggak akan sudi merasakan cinta. Namun, kita tahu, cinta nggak seperti itu, kan? Cinta yang benar-benar cinta tidak akan memberi kepahitan, sebaliknya, malah ketenangan.

Kamis, 19 November 2015

Not A Perfect Wedding : Perjalanan Tokoh Utama Yang Melelahkan


Judul : Not A Perfect Wedding
Pengarang : Asri Tahir
Penerbit : Elex Media Komputindo
Genre : Romansa

Sinopsis

Raina Winatama: Di hari pernikahanku, aku kehilangan mempelaiku. Bukan karena dia melarikan diri. Tapi dia pergi untuk selamanya.

Prakarsa Dwi Rahardi : Di hari pernikahanku, aku kehilangan mempelaiku. Bukan karena dia melarikan diri. Tapi aku harus pergi untuk selamanya.

Pramudya Eka Rahardi : Di hari pernikahan adikku, aku harus menjadi mempelai laki-laki. Menjalankan sebuah pernikahan yang harusnya dilakukan oleh adikku, Prakarsa Dwi Rahardi.


Editor’s Note
Pernikahan yang indah adalah impian setiap orang di dunia ini. Tapi bagaimana jadinya kalau akhirnya Anda harus menikah dengan orang yang sebelumnya bahkan tidak pernah Anda temui?

Not A Perfect Wedding menghadirkan fakta bahwa belajar mencintai adalah satu-satunya cara. Tidak ada yang tidak mungkin. Ketulusan seseorang akan mengalahkan kekerasan hati, ketulusan dan cinta akan membalut luka dan menyembuhkannya. Not A Perfect Wedding akan menunjukkan caranya bagi pembaca.
 

Review

   Siapa sih yang tidak akan terguncang kalau calon suami/istri tiba-tiba saja meninggal pas mau hari H pernikahan? Semua orang saya rasa bakal terguncang, kecuali kalau pernikahan itu emang gak diharepin sih. 

   Not a perfect Wedding, berkisah tentang kehidupan Raina dan Pram yang sederhana. Sejujurnya, di awal hendak membaca buku ini, saya memberikan ekspetasi yang cukup tinggi terhadap cerita ini. Yah... sekalian menyegarkan diri dengan cerita-cerita romansa gitu. Sedang haus dengan kisah cinta #eaaaa :))

Minggu, 01 November 2015

Happiness : Masa Depanmu, Bukan Mereka



Judul : Happiness
Penulis : Fakhrisina Amalia
Penerbit : Ice Cube
Kategori : Remaja

Sinopsis

“Berarti nggak masalah, dong, kalau Ceria masuk MIPA tapi ambil Biologi?”

“Bisa aja, sih. Tapi kalau kamu tanya Mama, yang banyak hitung-hitungannya itu lebih spesial. Nggak sembarang orang bisa, kan?”


Bagi Mama yang seorang dosen Matematika, hitung-hitungan itu spesial. Mama selalu membanding-bandingkan nilai rapor Ceria dengan Reina—anak tetangga sebelah yang pandai Matematika—tanpa melihat nilai Bahasa Inggris Ceria yang sempurna. Karena itu, sepanjang hidupnya Ceria memaksakan diri untuk menjadi seperti Reina. Agar Mama dan Papa bangga. Agar ia tak perlu lagi dibayang-bayangi kesuksesan Reina. Agar hidupnya bahagia. Ceria bahkan memilih berkuliah di jurusan Matematika tanpa menyadari ia telah melepaskan sesuatu yang benar-benar ia inginkan. Sesuatu yang membuat dirinya benar-benar bahagia.


Review

   Kata orang, masa SMA adalah masa-masa paling menyenangkan. Katanya...

   Menurut saya, masa SMA adalah masa-masa paling mumet. Di jaman saya dulu, penjurusan mulai dari kelas 2 SMA. Kalau sekarang, saya kurang tahu sih, kurikulum sama aturan dunia pendidikan kita kan sering berubah-ubah tanpa sebab yang jelas. #eaaa

   Kembali ke pernyataan awal, masa SMA adalah masa paling mumet. Kenapa? Karena di titik inilah kita mempersiapkan diri untuk mandiri dari orangtua. Dalam usia yang masih dibilang labil, emosi meledak-ledak, bahkan nggak tahu apa yang diperbuat dan melakukan sesuatu hanya berdasarkan asas keren-kerenan, memutuskan/menentukan arah hidup terbilang sulit. Jarang lho, ada yang udah tahu ke mana dia ingin melangkah di usia seperti ini. Kebanyakan masih terkatung-katung dan nggak jelas arah hidupnya.

Jumat, 04 September 2015

7 Manusia Harimau : Silat Harimau di Tanah Sumatera


Judul : 7 Manusia Harimau
Penulis : Motinggo Busye
Penerbit : Qanita
Jilid 1

Review

   Berhubung gak nemu sinopsisnya di goodreads, maka langsung aja ke resensinya, ya.
   
   Jadi, buku ini menceritakan tentang apa sih? Tentang manusia harimau dunk, seperti judulnya. Tema dan kisahnya tidak biasa, sungguh!

Seruak : Suatu Pembenaran Atau benar-benar Kebenaran?


Judul : Seruak, A psychothriller novel
Penulis : Vinca Callista
Penerbit : Grasindo
Genre : Action - Thriller

Sinopsis

Mau tidak mau, Bonie harus berurusan dengan teman-teman barunya di Desa Angsawengi. Macam-macam pribadi, dari anak yang sangat menyenangkan sampai yang selalu menyebalkan, berinteraksi di rumah yang sama, karena kelompok mahasiswa ini sedang menjalani program Kuliah Kerja Nyata. Di kelompok anak muda ini hadir Arbil Radeagati—seorang aktor muda yang bermaksud melarikan diri dari tekanan keluarganya, penyakit yang menggerogoti jiwanya. Dan ada pula Mada Giorafsan, sahabat masa kecilnya yang mengetahui betapa Bonie tumbuh dari masa lalu yang gelap dan menjijikkan.

Pada awalnya, hubungan di antara kesebelas pribadi ini hanya seputar program kerja di desa serta perkembangan chemistry yang bercabang jadi persahabatan dan permusuhan. Namun, nyatanya Desa Angsawengi terlalu terkonsep. Ada orang-orang yang sengaja menakut-nakuti mereka, sistem kehidupan di sana lama-lama jadi mencekam jiwa Bonie dan kawan-kawan. Tidak ada remaja yang tinggal di sana, malah ada kawanan anjing besar yang sering kali muncul bersama anak kecil berkepala botak, ada pula pria misterius yang selalu mengganggu dengan mesin pemotong rumputnya. Anak-anak ini terus diteror oleh penguakan rahasia yang menggiring mereka ke misteri yang nyatanya melibatkan pribadi Bonie.

Review
   Kesan saya setelah membaca novel ini adalah lama, berat, dan semua numplek jadi satu. Dengan sudut pandang penceritaan yang nyampur antara sudut pandang orang pertama dan sudut pandang orang ketiga serba tahu sukses bikin saya kadang-kadang bingung.

   Sebenarnya, novel ini ingin menggambarkan tentang apa sih?

Selasa, 18 Agustus 2015

The School for Good And Evil : Dunia Dongeng Yang Sama sekali Bukan Dongeng




Judul : The School for Good And Evil (#1),
A world Without Princes (The School for Good And Evil #2)
Penulis : Soman Chainani
Penerbit : Bhuana Sastra
Genre : High Fantasy, Fairy Tale

Sinopsis

The School for Good And Evil (#1)

Tahun ini, Sophie dan Agatha digadang-gadang menjadi murid Sekolah Kebaikan dan Kejahatan yang legendaris, tempat anak-anak laki-laki dan perempuan dididik menjadi pahlawan dan penjahat dalam dongeng. Dengan gaun pink, sepatu kaca, dan ketaatannya pada kebajikan, Sophie sangat yakin akan menjadi lulusan terbaik Sekolah Kebaikan sebagai putri dalam dongeng. Sementara itu, Agatha, dengan rok terusan warna hitam yang tak berlekuk, kucing peliharaan yang nakal, dan kebenciannya pada hampir semua orang, tampak wajar dan alami untuk menjadi murid Sekolah Kejahatan.

Namun ketika kedua gadis itu diculik oleh Sang Guru, terjadi sebuah kesalahan. Sophie dibuang ke Sekolah Kejahatan untuk mempelajari Kutukan Kematian; sementara Agatha masuk ke Sekolah Kebaikan bersama para pangeran tampan dan putri cantik mempelajari Etiket Putri. Bagaimana jika ternyata kesalahan ini adalah petunjuk pertama untuk mengungkap diri Sophie dan Agatha yang sesungguhnya?

Sekolah Kebaikan dan Kejahatan menawarkan petualangan luar biasa dalam dunia dongeng yang menakjubkan, di mana satu-satunya jalan keluar dari dongeng adalah... bertahan hidup. Di Sekolah Kebaikan dan Kejahatan, kalah bertarung dalam dongengmu bukanlah pilihan.

A World Without Princes (The School for Good And Evil #2)

Sophie dan Agatha telah berhasil pulang ke Gavaldon, menjalani "bahagia selamanya" versi mereka. Namun, hidup tak seperti dongeng yang mereka harapkan. 

Agatha diam-diam berharap seandainya ia memilih akhir bahagia yang lain bersama pangerannya. Permohonan rahasia itu membuka kembali pintu menuju Sekolah Kebaikan dan Kejahatan. Tak disangka, dunia yang dulu pernah ia ketahui bersama Sophie ternyata telah berubah. 

Penyihir dan putri, tukang tenung dan pangeran, bukan lagi musuh. Ikatan baru telah terbentuk, menghancurkan hubungan lama. Namun dibalik hubungan yang rumit antara Kebaikan dan Kejahatan ini, perang sedang dipersiapkan. Musuh yang sangat berbahaya tersembunyi dibalik topeng wajah yang mereka kenal. Saat Agatha dan Spohie berjuang untuk memulihkan kedamaian, sebuah ancaman tak terduga bisa menghancurkan segalanya dan semua orang yang mereka cintai. kali ini, ancaman itu datang dari dalam diri mereka sendiri.

Review

   Saya bingung mau menilai kedua buku ini seperti apa. Penokohan, konflik cerita, dan ceritanya sendiri sangat bagus. Yang bikin saya rada risih mah, cuma arah ceritanya yang agak nyleneh. Di buku 1-nya sih..., kurang terlalu terasa ya, tapi di buku 2, waaaw... arah cerita ini benar-benar ngegampar banget.

   Iya, saya emang agak ceriwis kalau udah berhubungan dengan LGBT. Berhubung topik LGBT sangat sensitif di ranah jagat dunia maya Indonesia, mungkin sebaiknya kita mengesampingkan hal ini. Potensi debat kusir sangat besar kalau saya ngelanjutin pandangan saya tentang LGBT sendiri, karena itu, kita lanjut aja deh ke pembahasan cerita.

Rabu, 08 Juli 2015

An Abundance of Katherines : Seorang Colin yang Belum bisa Move on?



Judul : An Abundance of Katherines
Penulis : John Green
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama 
Halaman : 320 halaman


Sinopsis

Katherine V menganggap cowok menjijikkan.
Katherine X hanya ingin berteman.
Katherine XVIII memutuskan Colin lewat email.
Kalau soal pacar, ternyata tipe yang disukai Colin Singleton adalah cewek-cewek bernama Katherine.

Dan kalau soal Katherine, Colin selalu jadi yang tercampak. Setelah diputuskan Katherine XIX, cowok genius yang hobi mengotak-atik anagram ini mengadakan perjalanan panjang bersama teman baiknya. Colin ingin membuktikan teori matematika karyanya, supaya dapat memprediksi hubungan asmara apa pun, menolong para Tercampak, dan akhirnya mendapatkan cinta sang gadis.

Review

   Ini kedua kalinya saya membaca buku John Green. Dari pada Looking For Alaska, saya cenderung lebih suka dengan An Abundance of Katherines. Seperti biasa, John Green menyajikan kisah-kisah remaja ala Amerika yang sarat akan perenungan dan pemahaman, dengan tokoh-tokoh unik yang kadang-kadang misterius.

   Jadi..., di buku ini mengisahkan tentang perjalanan 2 orang remaja, yaitu Colin dan Hassan. Yang satu setengah Yahudi dan yang satunya lagi muslim yang sering menyatakan dirinya bukan teroris. Interaksi keduanya cukup lucu dan menyenangkan, yang mana Hassan bisa menjadi penyeimbang Colin yang sering kacau dan galau karena telah ditinggal oleh Katherine XIX alias 19.

Selasa, 30 Juni 2015

Kahve, Shamrock & Raven : Kopi Penunjuk Nasib




Judul : Kahve, Shamrock & Raven
Penulis : Yuu Sasih
Penerbit : de_teens

Sinopsis

Kencana pergi ke ibu kota untuk kuliah sekaligus mencari jawaban atas alasan Saras, kakaknya, bunuh diri. Kencana menemukan gambar shamrock (semanggi berhelai tiga) di buku harian kakaknya yang bertanggalkan empat bulan sebelum hari kematiannya, yang juga menjadi entri terakhir di sana. Isi dari halaman yang dipenuhi gambar semanggi itu menyatakan bahwa kakaknya baru saja mendapatkan hasil ramalan yang bagus dari kedai kopi Black Dream di dekat kampusnya.

“Hari ini di Black Dreams aku dapat shamrock di cangkir kopiku. Tentu aku nggak lihat apa-apa di cangkir kopiku selain ampas hitam, tapi si barista kelihatan yakin saat mengatakannya. Katanya itu pertanda akan terkabulnya keinginan terbesar orang yang mendapatkannya. Dia juga bilang kalau gambar itu jarang ditemukan saat pembacaan. Memang cuma ramalan biasa, tapi akan menyenangkan kalau benar.”

“Saat orang sudah putus asa, hal seremeh apa pun akan dijadikan pegangan harapan.”

Review

   Whoaaa..., cerita ini mengingatkan saya pada kasus salah satu sastrawan tahun lalu, yaitu kasusnya Sitok Srengenge. Kita tahu sendiri, kasus tersebut menghebohkan banyak pihak, terutama setelah diketahui pula bahwa korbannya tidak hanya gadis tersebut, melainkan ada gadis-gadis lainnya.

Senin, 29 Juni 2015

Winter People : Kasih Yang Terlalu Kuat




Judul : Winter People
Penulis : Jennifer Mcmahon
Penerbit : qanita
Genre : Horor atau mungkin legenda cerita rakyat?

Sinopsis

“Beri tahu aku, kumohon, bisakah yang sudah mati bangkit kembali?”

Selamat datang di West Hall, kota terpencil dengan legenda mengerikan. Selama puluhan tahun, orang-orang menghilang dan meninggal secara misterius di sana. Ada yang bilang itu gara-gara penyihir jahat yang bisa menghidupkan kembali orang mati.

Ruthie benci West Hall, dan dia bertekad untuk meninggalkan kota itu segera setelah dia punya cukup uang. Namun, tiba-tiba ibunya menghilang, meninggalkan Ruthie dan adik perempuannya. Ketika sedang mencari petunjuk, Ruthie menemukan buku harian rahasia. Di situ tertulis kisah tentang kaum musim dingin, orang-orang yang dibangkitkan kembali dari kematian mereka. Mungkinkah ibu Ruthie ada hubungannya dengan ini semua? Dan bisakah Ruthie menemukan sang ibu, sebelum jatuh korban lagi?

Review

   Bagaimana saya bisa menilai cerita ini tanpa menduga-duga mengenai kebenarannya? Novel ini memiliki kisah yang mirip seperti cerita rakyat atau legenda/mitos di suatu tempat. Semuanya terjalin sempurna dan runtut, menimbulkan efek yang cukup mengguncang benak saja. *sedikit melebaykan pandangan*

Sabtu, 27 Juni 2015

Love, Curse, & Hocus-Pocus : Cinta yang Lebih Serius


Judul : Love, Curse, & Hocus-Pocus
Penulis : Karla M. Nashar
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Genre : Romansa, Metropop

Sinopsis

And what would you do, if I told you I have no intention to kiss you?”

“Kurasa... aku akan membuatmu mengubah keputusanmu itu.”

Ketika Troy Mardian dan Gadis Parasayu yang saling membenci harus terbangun dalam keadaan bugil dengan memori kabur akan pernikahan mereka, reaksi pertama mereka adalah berteriak histeris. Mereka curiga jika semua keanehan itu berkaitan dengan wanita gipsi tua yang mereka tertawai pada acara ulang tahun kantor mereka.

Untunglah mimpi dan realita yang tumpang tindih mempermainkan akal sehat mereka itu segera berakhir, dan membawa mereka kembali ke dunia nyata. Kali ini Troy dan Gadis yakin semua keanehan yang mereka alami itu telah berakhir. Setidaknya demikian, hingga tugas kantor membawa mereka ke negara para Duke dan Duchess, Inggris.

Dalam penerbangan yang melewati turbulensi ekstrem dan nyaris merenggut nyawa, keduanya dipaksa berpikir ulang tentang perasaan masing-masing.

Meskipun mereka saling membenci sejak pandangan pertama, mungkinkah berbagai peristiwa aneh tersebut justru mengubah rasa tidak suka mereka menjadi cinta?

Dan ketika Troy dan Gadis mengira hidup mereka sudah mencapai puncak kebahagiaan tertinggi, nun jauh di sana, sayup-sayup suara gemerencing lonceng perak kecil milik si gipsi misterius kembali membelah pekatnya malam...

Lalu apa kira-kira yang akan terjadi pada Troy dan Gadis kali ini?

Cring... cring... cring... Beware!

Review

Setelah tertawa dan terhibur di buku pertamanya yang berjudul Love, Hate, and Hocus-Pocus, di buku kedua ini saya disuguhkan mengenai 'rasa' yang sungguh berbeda dari buku pertama. Hampir mirip seperti buku pertama tetapi di buku kedua ini, penciptaan suasana, emosi para tokoh, serta perjalanan para tokoh terasa lebih intens dan mengena.

Di buku pertama, saya lebih banyak tertawa.

Di buku kedua, saya lebih sering merenungkan.

Life Of Pi : Arti Kebenaran Itu Apa sih?




Judul : Life Of Pi
Penulis : Yann Martel
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Sinopsis

Pada tanggal 21 Juni 1977, kapal barang Tsimtsum berlayar dari Madras menuju Canada. Pada tanggal Juli, kapal itu tenggelam di Samudra Pasifik. Hanya satu sekoci berhasil diturunkan, membawa penumpang seekor hyena, seekor zebra yang kakinya patah, seekor orang-utan betina, seekor harimau Royal Bengal seberat 225 kilogram, dan Pi---anak lelaki India berusia 16 tahun.

Selama lebih dari tujuh bulan sekoci itu terombang-ambing di Samudra Pasific yang biru dan ganas. Di Samudra inilah sebagian Kisah Pi berlangsung. Kisah yang luar biasa, penuh keajaiban, dan seperti ucapan salah satu tokoh di dalamnya, kisah ini akan membuat orang percaya pada Tuhan.

Film layar lebar mulai ditayangkan 28 Nov 2012 dengan sutradara Ang Lee.

Review

Life Of Pi...
Kisah tentang perjuangan seorang anak untuk bertahan hidup di Samudera tak bertuan. Di blurb belakang novel ditulis bahwa, kisah ini akan membuat orang PERCAYA PADA TUHAN.

Benarkah?

Saya rasa, tidak.

Life Of Pi dibuka dengan cerita mengenai seorang penulis yaitu Yann Martel yang sedang bingung menyelesaikan novel romansanya. Karena merasa stuck ia pun pergi ke India untuk berekreasi sekaligus mencari ide untuk kelanjutan ceritanya. Nah, bermula dari pertemuannya dengan seorang pria tua bernama 'Mamaji' inilah, si penulis (Yann Martel) bertemu dengan Piscine Molitor Patel atau sebut saja Pi.

Love, Hate, And Hocus-Pocus : Kutukan Konyol Berakhir Cinta


Judul : Love, Hate, & Hocus - Pocus
Penulis : Karla M. Nashar
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Genre : Romance, Metropop

Sinopsis

HATE at first sight. Itulah definisi yang tepat untuk menggambarkan Troy Mardian dan Gadis Parasayu. Mereka partner kerja yang dinamis---sedinamis gejolak permusuhan yang terus meletup di antara mereka berdua.

Menurut Gadis, Troy Mardian adalah contoh sempurna tipe manusia yang tercabut dari akarnya. Jelas-jelas asli Indonesia, kok pakai bertingkah ala bule? Rambut dicokelatin, ngomong selalu pakai Inggris, barang-barang harus designer label, dan mati-matian mempertahankan imej metroseksual biar tetap bisa menyandang gelar The Most Eligible Bachelor in Indonesia yang dijuarainya berturut-turut pada sebuah kontes nasional.

Sedangkan menurut Troy, Gadis Parasayu (atau Paras Ayu) adalah nama terkonyol yang pernah didengarnya. Di Amerika tempat Troy dibesarkan, nggak ada orangtua yang cukup gila menamai anak mereka dengan Beautiful Face Girl. Narsis sekali! Okelah, wajahnya memang eksotis plus lekuk bodi bak JLo, tapi masa sih doyan banget pakai merek lokal? So nggak kosmopolitan deh!

Hanya satu persamaan mereka. Sama-sama nggak percaya dengan yang namanya hocus-pocus, ramal-meramal, paranormal, astrologi, kartu tarot, feng shui, atau apa pun sebutannya yang berhubungan dengan dunia pernujuman.

Lalu apa yang terjadi saat mereka terbangun pada suatu Minggu pagi cerah, dan mendapati diri mereka berada di ranjang yang sama dalam kondisi bak Adam dan Hawa saat pertama kali terdepak dari Firdaus---bugil, plus cincin kawin yang melingkari jari manis masing-masing, serta sepotong memori kabur tentang pernikahan yang mereka lakukan tiga belas hari yang lalu?!

Review

Awal pertama melihat cover buku ini, rasanya rada aneh, gak menarik. Baca prolognya, langsung merengut (mulai tertarik), 'Ada apa ini?'. Terus baca bab 1-2, mulai bosan, gak tertarik. Tapi begitu masuk kejadian saat si Troy masuk ke cerita, saya langsung senyam-senyum sendiri, geli baca pertengkaran mereka.

Dua orang saling bermusuhan kemudian timbullah cinta itu sudah biasa. Tapi, bagaimana kalau awal cinta mereka itu karena mantra? *ketawa mengingat adegan lucu setelah mereka menikah*

Daripada buku metropop sebelumnya -yang judulnya tidak perlu saya sebutkan- , saya sama sekali tidak jenuh membaca buku ini. Awalnya memang bosan karena cerita mengenai perjalanan si Gadis Parasayu mutasi ke Jakarta. Tapi, setelah ketemu Troy, walah... hampir sepanjang cerita buku ini saya ketawa mulu.

Eleven Minutes : Apa itu Cinta?



Judul : Eleven minutes
Penulis : Paulo Coelho
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Sinopsis

Cinta hanya menimbulkan penderitaan…

Demikianlah anggapan Maria, gadis Brazil yang sejak remaja begitu yakin tak akan pernah menemukan cinta sejati dalam hidupnya. Seseorang yang ditemuinya secara kebetulan di Rio de Janeiro berjanji akan menjadikannya aktris terkenal di Swiss, namun janji itu ternyata kosong belaka. Kenyataannya, dia mesti menjual diri untuk bertahan hidup, dan dengan sepenuh kesadaran dia memilih untuk menjalani profesi sebagai pelacur. Pekerjaan ini semakin menjauhkannya dari cinta sejati.

Namun ketika seorang pelukis muda memasuki hidupnya, tameng-tameng emosional Maria pun diuji. Dia mesti memilih antara terus menjalani kehidupan gelap itu, atau mempertaruhkan segalanya demi menemukan “cahaya di dalam dirinya.” Mampukah dia beralih dari sekadar penyatuan fisik ke penyatuan dua pikiran atau bahkan dua jiwa---ke suatu tempat di mana seks merupakan sesuatu yang sakral?

Dalam novel yang sungguh berbeda ini, Paulo Coelho menantang segala prasangka kita, membuka pikiran kita, dan membuat kita benar-benar terperangah.
 

Review

Penasaran dengan novel ini, akhirnya, suatu ketika saya membeli novel ini. Di bab-bab pertama saya membaca novel ini terkesan datar, tidak menyentuh sama sekali atau, membosankan. :|

Untuk beberapa hari atau bahkan bulan? Saya tidak melanjutkan membaca buku ini. Namun, hari ini, kebetulan setelah pikiran saya mulai jenuh untuk melongo ria, saya membuka kembali buku ini dan membacanya.

Seperti kesan pertama, awal melanjutkan cerita ini, datar. Namun, begitu menginjak pertengahan buku, apalagi ketika sosok Maria bertemu dengan Ralf dan Terence, cerita jauh lebih menarik lagi dan menyentuh. Saat membaca buku ini, saya seolah diajak untuk merenungkan apa hakikat cinta dan seks itu sendiri.

Elang dan Bidadari : Kisah Cinta Bernuansa Korea




Judul : Elang dan Bidadari
Penulis :  Puput Sekar Kustianti
Penerbit : Republika
Genre : Romansa 

Sinopsis

"Jingga, kau pasti tahu maksudku kan? Apa kau sudah mencuri tulang rusukku? Jika ya, tolong simpan sejenak, hingga aku menemukan jalan agar kita bersama. Aku tahu selama kita berbeda agama, kita tak akan bisa bersama, begitu kan?"

"Kim Young-Han, tidak usah mempermainkan hatiku ataupun memberi harapan untukku. Jika kau masih berpikir untuk bisa bersamaku dengan masuk Islam, itu akan merusak niatmu. Pelajari Islam yang benar. Jika ada takdirmu yang harus kau jalani bersamaku, niscaya takdir itu tak akan berubah!" serak, Jingga berusaha menahan tangis, semua rasa bercampur menjadi satu.

"Ya, jika takdirku ada bersamamu, maka takdir itu akan kupinta untuk bisa bersamamu," lirih Young-Han.

***

Jingga, muslimah asal Indonesia mendapatkan kesempatan mengikuti program budaya Korea di Hankuk University Foreign Studies, di Seoul-Korea Selatan. Jingga berusaha keras untuk tetap komitmen dengan norma dan nilai yang ia anut, meski berada di negara yang setengah penduduknya tidak beragama. Ia juga malah mendapat pelajaran berharga tentang nilai sebuah kerja keras yang mutlak beriringan dengan doa.

Kim Young-Han, pria sedingin es di Kutub. Kala kuliah di Paris, Prancis, ia mulai kenal pada Islam dan awal ketertarikannya terhadap agama tauhid ini. Pulang ke Korea Selatan, ia masih tetap tidak memiliki pegangan agama yang jelas dan kembali menjalani hari-hari beratnya bersama dendam dan kebencian dimasa lalu.

Di Tanah Ginseng mereka bertemu, berbenturan karakter tapi juga membuat untaian kisah yang akan banyak menuturkan tentang cinta yang sebenarnya. Akankah pertemuan itu membawa sebuah takdir yang sama dan bermuara pada cinta-Nya? Ataukah hanya sebagai mimpi kilat dan bersitan luka akan takdir yang harus mereka jalani masing-masing. Kisah ini tidak hanya bertutur tentang cinta, tapi juga kasih sayang mendalam antara keluarga, persahabatan, dan mimpi. Karena mimpi memang mutlak untuk terus diperjuangkan.
 


Review

Sekilas Melihat cover buku, Saya hanya bisa mengernyitkan dahi. Dalam pikiran saya, terlintas satu kalimat, 'Ini buku kenapa covernya suram abis kek orang dari geng jalanan gini ya?'

Novel dengan judul Elang dan Bidadari ini menggelitik insting kepenasaran saya. Gimana gak penasaran? Covernya suram, judulnya Elang dan Bidadari, Sinopsisnya tentang orang yang kuliah di luar negeri. Nyambung kagak, bingung ya iya. --"

Yah..., Cerita ini dibuka mengenai seorang gadis bernama Jingga, seorang gadis muslimah yang menutut ilmu ke negeri gingseng. Mendengar nama Jingga sendiri, saya mulai ngawang-ngawang, kok... namanya Jingga ya? Sayang, saya nggak menemukan alasan kenapa penulis memberi nama tokoh utamanya Jingga.

Minggu, 21 Juni 2015

The Golem And The Jinni : Cinta Antara Dua sosok yang Berbeda



Judul : The Golem and The Jinni
Penulis : Helene Wecker
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Genre : Fantasi
Kategori : Buku Bantal

Sinopsis

Chava: golem, terbuat dari tanah liat, dihidupkan oleh rabi yang terlibat ilmu sihir hitam. Ketika majikan Chava, sang suami yang memesan pembuatan dirinya, tewas dalam perjalanan laut dari Polandia, sang golem pun bagai layang-layang putus ketika tiba di New York pada tahun 1899.

Ahmad: jin, terbuat dari api, lahir di padang pasir Suriah. Ia dijebak penyihir Beduin sehingga terkurung dalam guci tembaga berabad-abad lamanya,sampai tak sengaja dibebaskan di Lower Manhattan. Meskipun tidak lagi terpenjara, Ahmad tak sepenuhnya bebas––gelang besi mengikatnya ke dunia fisik.

Kedua makhluk ini, dengan kisah masing-masing yang tak terlupakan, membentuk jalinan persahabatan––sampai pada suatu malam, insiden mengerikan membuat mereka terpaksa kembali ke dunia masing-masing. Namun, ancaman dahsyat akan menyatukan Chava dan Ahmad kembali, menantang keberadaan mereka dan memaksa mereka untuk mengambil keputusan luar biasa.

Review

   Ada apa dengan buku fantasi akhir-akhir ini? Saya kok merasakan kalau buku fantasi yang diterjemahkan beberapa bulan terakhir memiliki muatan yang sangat berat. Nggak melulu bercerita soal petualangan atau cinta, tetapi juga mengenai agama, politik, bahkan buku yang saya baca ini membicarakan soal eksistensi Tuhan.

   Bukeeee, sirahku ngelu bar maca iki.

   Sebenarnya, saya nggak kaget lagi kalau ada buku fantasi yang muatannya berat. Dimulai dari trilogi age of five - Trudi Canavan yang ceritanya sangat membekas dalam kepala saya, sampai Elantrisnya - Brandon Sanderson yang tokoh utamanya bikin jejeritan, The Golem and The Jinni bisa dibilang sedikit lebih mudah dipahami dibanding kedua cerita yang saya sebutkan. Kalau Age of Five dan Elantris merupakan jenis High Fantasy yang latar dunianya harus diciptakan di dalam kepala kita sendiri (dan ini membutuhkan usaha ekstras untuk membayangkannya), The Golem and The Jinni mengambil latar di New York pada tahun 1800-an bernuansa klasik.

   Lebih mudah, kan?

Selasa, 26 Mei 2015

Half Wild : Aku Padamu-lah



Judul : Half Wild (buku #2 Half Bad)
Pengarang : Sally Green
Penerbit : Mizan Fantasi
Genre : fantasi

Sinopsis

Gadis yang dicintai Nathan menghilang. Gadis itu mungkin telah mengkhianatinya. Namun, Nathan ingin mencarinya, menemukannya, dan tak pernah berhenti.

Para penyihir putih terus memburunya. Penyihir hitam tak henti berusaha menyingkirkannya.

Setelah menerima Anugerah dari sang Ayah, Nathan pun menjadi ancaman.
Anugerah itu tak bisa dikendalikannya.
Di tengah perang antara penyihir putih dan hitam, bahaya terbesar yang mengancamnya ada pada dirinya sendiri.

Review

   Sosok Nathan dan Annalise yang saling membelakangi ini sangat menggoda, apalagi dengan latar kebiruan serta pendar perak dan hitam yang pas, sampul bukunya terasa adem-misterius-tapi-unik. Sayangnya..., sampul seindah ini ndak bisa bikin penilaian saya sama cerita di buku ini naik.

   Kesan pertama pas baca prolog buku ini adalah... BERISIK!

   Yap, itu yang saya tangkap dari dialog kebatinan yang terjadi dalam diri Nathan. Mana suara berdengingnya juga dituliskan ampe ada 4 paragraf (yang dibuat terpisah-pisah). Serius, ini bikin saya dongkol ketika baca halaman-halaman awalnya. Makin ke belakang, makin banyak yang bikin saya tambah dongkol. Saya merasakan bahwa kisah Nathan ini rasanya kurang fokus, melompat-lompat dan tidak terarah. (Yang terarah cuma keinginan kuat Nathan buat menolong Annalise yang ditawan sama Mercury, sih).